30 Maret 2009

Anak berbuat....ortu harus bertanggung jawab...

Ternyata menarik juga menjadi orang tua itu, kadang bisa senang, kadang bisa juga kesal atau sedikit geli gitu jika melihat kelakuan anak-anak kita. Betul juga pepatah jawa dulu bahwa "anak polah, bopo kepradah". Kurang lebih begitu yang kualami hari kemarin.

Seperti biasa, aku jemput anakku yang masih duduk di Sekolah Dasar kelas dua, hanya kali ini ia pulang sekolah pukul 12.00. Ini karena seminggu ini di sekolah diadakan tes formatif ke-2. Kalau tidak ujian demikian, anakku pulang rata-rata pukul 14.00 WITA. Betapa panasnya hari itu, tetap juga aku harus menjemput anakku tersebut. Yang lebih repot lagi jikalau terjadi hujan deras saat waktunya harus menjemput. Sepulang dari sekolah tersebut aku singgah dulu di kantor untuk Sholat dhuhur dan sekalian mengambil makan siang yang memang sudah aku pesan setiap siangnya untukku berdua dengan Hanan. Kemudian kami pulang ke rumah. Aku langasung saja duduk dan bersiap-siap makan berdua bersama anakku.

Yah beginilah keadaanku sementara waktu di Samarinda ini, karena di sini aku masih hanya berdua dengan anakku yang tertua tersebut. Hingga semuanya kami lalui hanya berdua, tanpa istri dan kedua anakku yang kecil lainnya. Sehingga praktis semua pekerjaan kutanggung sendiri, berlaku sebagai orang tua tunggal.

Di sela-sela makan tersebut, aku menerima telepon dari seorang ibu yang mengaku orang tua dari teman anakku di sekolah. Ia menanyakan tentang buku pelajaran yang dipinjam anakku dari anaknya yang sampai hari itu belum dikembalikan. Padahal besok harinya merupakan ujian mata pelajaran tersebut. Aku terkejut mendengarnya, mana lagi alamat temannya anakku itu kami belum tahu. Mau marah pada anak, juga tidak ada gunanya karena itu telah terlanjur. sekarang bagaimana cara penyelesaiaannya saja yang dipikirkan. Memang sih beberapa hari yang lalu anakku pernah pinjam buku fiqh juga untuk dicopy. Hanya saja ketika dia pinjam buku bahasa indonesia ini, kemungkinan anakku lupa bilang padaku untuk mengcopynya, padahal buku itu dipinjam hari jumat kemarin. Kebetulan waktu aku cari buku tersebut di beberpa toko buku di kota ini, tidak kudapatkan.

Jadilah hari itu kupercepat makan siangku kali ini. Kemudian kucopy dan kuusahakan mengembalikan buku tersebut kepada teman anakku. Hanya saja untuk menemukan rumahnya katanya agak sulit, karena jalan yang memang mungkin dianggap susah untuk dicari. Jadinya kami sepakat untuk bertemu dengan orang tuan teman anakku tersebut di tempat kerjanya. Kebetulan tempat kerjanya merupakan fasilitas umum yang kemungkinan mudah untuk dijangkau, yaitu sebuah Rumah Sakit yang bernama "Siaga". Inipun sebenarnya aku belum tahu lokasi pastinya. Kubuka peta kota yang telah kubeli beberapa minggu yang lalupun ternyata nama rumah sakit tersebut belum tercatat, mungkin merupakan rumah sakit baru. Ya akhirnya dengan berbekal tanya teman di kantor dan melalui telpon orang tua teman anakku tersebut, akhirnya ketemu juga rumah sakit itu. Walau untuk mencarinya dibutuhkan waktu yang tidak sedikit, namun buku bisa dikembalikan, ujian anak-anak besok tidak terabaikan.




04 Maret 2009

Hanan Outbond

Hari ini Hanan tidak sekolah seperti biasanya. Kebetulan sesuai program sekolah, dia mengikuti outbond di kebun raya unmul Samarinda. Bagus sih untuk anak-anak, di situ dapat mendidik dan menumbuhkan keberanian, kekompakan, kepemimpinan, dan masih banyak lagi yang tentunya positif. Jangankan untuk anak-anak, orang tua pun yang nota bene sudah bekerja juga perlu kegiatan semacam ini. Selain untuk refreshing dari kegiatan rutin kantor, manfaatnya itu yang tentunya dicari. Setelah kegiatan, walau lelah tapi hati menjadi mak nyess... segar,.... semangat....., kerja bisa lebih produktif.

Kembali kepada outbondnya anakku itu, ia merasa senang katanya. Bisa bermain-main bareng dengan teman-teman dan gurunya di tempat yang juga belum pernah dikunjungi. Kebun raya unmul kan baru bagi dia, jadi rasa penasarannya tinggi. Ini juga bisa untuk melupakan sejenak kerinduannya terhadap adiknya (baca Hishnun). Maklum jarak umur keduanya tidak terlalu jauh, jadi sehari hari bisa jadi teman bermain. Kalau bersama kadang sering berantem, tapi kalau berpisah agak lama maka saling merindu, sering bertanya tentang saudaranya. Heboh lagi kalau mereka bicara melalui telepon, saling berteriak-teriak untuk mengungkapkan rindunya, seakan-akan bicara sendiri-sendiri, ingin berebut bicara tentang pengalamannya selama berpisah

03 Maret 2009

Minggu-minggu pertama di Samarinda

Awal-awal minggu pertama di Kota Tepian (Teduh, Rapi, Aman dan Nyaman), aku punya target untuk dapat kontrakan yang katanya gampang-gampang susah untuk mendapatkannya. Ini terbukti, karena kesempatanku untuk jalan-jalan sendiri mengitari kota ini hanya hari sabtu dan minggu. sedangkan waktu yang lain hanya tersisa malam hari saja. Ini selain untuk mempermudah jika sewaktu-waktu istriku menyusul ke Samarinda, maka telah tersedia tempat yang layak untuk berteduh dan bermalam.

Selama aku belum mendapatkan kontrakan tersebut, sementara aku tinggal/kontrak kamar di rumah pak Suhandoyo bersama Hanan (anak tertuaku). Di sana juga ada temanku dahulu yang sama-sama di Jayapura namanya pak Sri Hartama. Lewat dialah aku dapat kontrakan kamar di tempat pak Suhandoyo. dahulu aku pesannya lewat telepon (di awal bulan januari-setelah aku dapat kabar pindah ke samarinda). Ya, memang lebih ekonomis demikian, jika dibandingkan jika sewaktu aku datang dan harus menginap di hotel terlebih dahulu. Biaya yang dua atau tiga hari di hotel bisa digunakan untuk satu bulan kontrak kamar.

Kurang lebih dua minggu aku tinggal di rumah pak Suhandoyo, karena sebetulnya kamar yang akan aku tempati sebetulnya akan ditempati oleh kerabatnya yang memang kebetulan ada kerjaan di sekitar tempat pak Suhandoyo tersebut. Namun karena aku tidak untuk tinggal dalam jangka waktu yang lama, maka aku diijinkan untuk tinggal di rumahnya sementara waktu sambil mencari kontrakan yang aku maksud. Ini kukira tidak lepas karena kebaikan hati pak Suhandoyo sekeluarga.

Selama dua minggu tersebut aku tiap hari sabtu dan minggu jarang di rumah karena jalan-jalan menyusuri Kota Samarinda. Kebetulan aku dipinjami motor oleh Pak Muchtar(kasi Vera KPPN samarinda), yang memang karena kebaikannyalah langkahku menjadi lebih panjang. Dengan motor pinjaman ini aku menyusuri setiap lorong-lorong kota hingga jalan-jalan besar. Konsentrasiku terarah ke sekitar kantorku yang terletak di jalan juanda dan bakal kantor istriku yang ada di jalan panglima M. Noor (daerah Sempaja). Berkali-kali aku berkeliling di dua tempat itu dan diantara kedua kantor tersebut. Sekitar jalan M yamin dan Jalan AW syahrani juga aku jelajahi. Selain hari-hari libur itu, juga pada selepas jam kantor aku juga menyempatkan diri untuk keliling kota, terutama jika ada rekan kantor yang beri informasi adanya tempat kontrakan. Ada pak Hardiyanto, ada pak Darsono, ada pak Sulardi, ada pak Sofyan, ada juga temanku dari Jayapura yang punyateman di Samarinda kasih kabar juga, termasuk temannya istriku di Jayapura kasih info juga. Semua informasi tersebut aku cek lokasinya.

Pernah suatu ketika ada informasi tempat kontrakan dan kebetulan anakku tidak ingin ikut serta untuk melihatnya karena ia ingin segera kembali ke tempat pak Suhandoyo bersama temanku (pak Sri Hartama). Waktu itu aku pergi bersama dengan pak Sofyan melihat tempatnya di sekitar jl. Kadri Oening, tetapi karena memang belum rejekinya, ketika kami sampai di tempat yang dituju ternyata tempat itu sudah diisi oleh penghuni baru yang sedang angkat-akngkat barang. Info ini sebenarnya dari saudaranya pak Sofyan yang bekerja di BPK Samarinda. Sewaktu kami mau meninggalkan tempat tersebut, kebetulan bertemu dengan saudaranya tersebut yang ternyata masih ada cadangan tempat incaran yang kebetulan masih belum selesai dibangun. Rumah tersebut di daerah jl. AW.Syahrani. Kami bertiga kemudian menuju tempat tersebut untuk bertemu dengan pemilik rumah. Setelah bertemu dengan tuan rumah, ternyata masih menggantung, ada dua pihak yang berkepentingan untuk rumah baru tersebut dan kedua-duanya harus menunggu keputusan dan menunggu selesainya dibangun bangunan tersebut.

Ketika pulang ke kantor, ternyata anakku masih berada di situ dan tertidur pulas di samping motor pinjaman dari pak Muchtar. Sepertinya terlambat mengikuti pak Sri Hartama dan kelelahan menungguku. Kasihan anakku ini (kata adikku...untung tidak hilang mas). Tapi aku salut terhadap anak pertamaku ini, ia tampaknya tegar menghadapi hal ini walaupun terpaksa. Sampai saat ini jarang-jarang dia mengeluh akan kondisi yang dialaminya saat ini.

Disamping aku mencari-cari kontrakan tersebut, aku juga ingin mengetahui lebih jauh tentang Kota samarinda ini. Kadang aku sendirian keluar dan kadang aku bersama anakku berkeliling kota. Yang kujadikan patokan saat itu hanya insting saja (katanya pak Sri Hartama jalannya tidak terlalu sulit, ketemu semua dan tidak akan nyasar). Kuturutin saja kata hatiku dan keinginanku, jika terdapat persimpangan jalan, sesukanya aku membelokkan motor pinjaman tersebut. Semakin jauh akan semakin tahu akan kota ini. Sebenarnya cara termudah dengan mencari peta kota dan berpedoman padanya,namun ini sengaja tidak kulakukan di awal-awal minggu tersebut beberapa saat setelah kujelajahi kota, barulah kubeli peta tersebut hanya sekedar ingin lebih dalam mengingatnya).

Suatu ketika aku sampai juga di masjid Islamic Center yang katanya merupakan masjid termegah se asia( iya kali...). Kalau dilihat dari bentuk bangunannya, mengingatkan aku akan Masjidil Haram (walau aku belum pernah ke sana...) yang kulihat di gambar-gambar. Mungkin itu juga yang jadi motivasi pendirian masjid tersebut. Hanya sayangnya lingkungannya belum sempurna betul tatanannya. Tumbuhan dan rumpun yang berada di halamannya belum tumbuh sempurna. Andaikan rumput telah kelihatan hijau dan pohon-pohon palemnya telah banyak daunnya, sungguh sangat terlihat indahnya masjid tersebut.

10 Februari 2009

Perjalanan ke Samarinda

Aku ini merupakan orang terakhir yang berangkat dari Kota Jayapura untuk pindah tugas ke yang baru. Kalau teman-teman yang lain seakan ingin secepatnya meninggalkan kota itu (tentu dengan alasan masing-masing...), rata-rata tanggal 10 sudah pada pergi. Ini karena ada yang pelantikannya tanggal 12 Januari 2009 dan ada juga yang ingin singgah dulu di kampung halamannya sebelum menuju ke tempat tugas barunya. Tanggal 14 Januari 2009 aku baru berangkat ke tempat tugas yang baru untuk dilanti keesokan harinya. Ini karena aku harus rela meninggalkan istriku dan kedua anakku yang masih kecil-kecil di Kota Jayapura.
Aku tidak sempat berpikir untuk singgah ke kampung halaman terlebih dahulu seperti teman-teman. Kurasa waktu yang sedikit itu lebih berharga untuk bersama anak-anak dan istriku di Jayapura daripada singgah ke kampung halaman. Bukannya aku mengabaikan kewajiban terhadap keluarga besarku, tapi kurasa lebih besar lagi kepentingan keluargaku dalam hal ini. Untuk pulang ke kampung halaman kurasa ada waktu tersendiri yang lebih baik.

Semula aku berencana untuk berangkat sendiri terlebih dahulu ke Samarinda dan keluarga akan menyusul belakangan, tapi mengingat waktu untuk menyusul tersebut belum dapat dipastikan dan kondisi anak pertamaku yang baru saja semesteran serta kerepotan jika ketiga anakku kutinggal dahulu di Kota Jayapura, maka kami putuskan untuk ikut serta anak pertamaku berangkat ke Samarinda. Disamping sebagai penghibur hatiku (biar tidak kesepian), sekaligus agar pelajarannya tidak jauh tertinggal/berbeda karena baru masuk semester genap, juga penyesuaiannya tidak terlalu sulit.

Akhirnya tanggal 14 Januari 2009 pagi kami berdua ( baca aku dan anak pertamaku) berangkat ke Samarinda. waktu itu aku diantar pak Kartum ke bandara Sentani. ditengah jalan menuju bandara pak Kartum cerita akhir-akhir ini pesawan Lion yang akan aku tumpangi biasanya terlambat penerbangannya. Sedikit banyak info ini membuatku khawatir (belum lagi pikiranku terhadap kekhawatiran istriku yang kutinggalkan itu), karena aku akan ganti pesawat di Makassar dengan pesawat Merpati. Ini dengan pertimbangan jika aku tetap memakai pesawat Lion , selain biayanya lebih mahal waktu sampai di Samarinda diperkirakan malam hari (sekitar jam 10 malam). Sedang jika ganti pesawat di Makassar dengan menggunakan Merpati, perkiraan sampai di Kota samarinda sekitar jam 16.00.

Sampai di bandara Sentani dengan perasaan masih cemas, aku masuk ke bandara dengan seorang porter untuk membawa barang-barangku yang lumayan banyak. Pak Kartum waktu itu tidak langsung pulang, karena sekalian menjemput kedatangan Pak Kanwil (Pak Prajono) yang dijadwalkan akan datang hari itu juga dari Manokwari


Sambil aku lapor untuk keberangkatan, kupasang telinga untuk dengar info tentang pesawat yang akan kunaiki, dan alhamdulillah ternyata pesawat lion sesuai jadwal kedatangannya di Bandara Sentani. Ini artinya bahwa jadwal keberangkatanku kemungkinan tidak tertunda. Kutunggu keberangkatan di ruang tunggu bandara dengan hati lega.
Selanjutnya perjalanan menuju makassar yang ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam 25 menit tidak mengalami masalah. Oh ya bekal makanan telah dibawakan istriku (lion tidak sediakan...), sehingga anakku tidak terlalu mencemaskannya. Sesampainya di Bandara Sultan Hasanuddin Makasar, kami berdua harus menunggu sekitar 2,5 jam. Waktu yang singkat itu kupergunakan untuk ambil bagasi, lapor untuk keberangkatan menggunakan pesawat merpati, dan kemudian sholat dhuhur. Tepat jam 12.40WITA pesawat berangkat menuju Balikpapan. Perjalanan ke balikpapan ditempuh dalam waktu sekitar 55 menit.

Tiba di Balikpapan sekitar pukul 13.45 dan disambut dengan guyuran hujan yang tidak terlalu deras. Baru kemudian menuju ke Kota Samarinda dengan menggunakan perjalanan darat sekitar 125 km. Kami berdua melanjutkan perjalanan tersebut dengan menggunakan mobil carteran kijang yang memang ada banyak di bandara. Biasanya satu mobil diisi sekitar 4 - 6 penumpang dengan tujuan Kota Samarinda, dengan begini biaya yang ditanggung masing-masing penumpang menjadi lebih ringan. Setidaknya dalam satu kali jalan ongkosnya sekitar 250 - 300 ribu. (sama dengan Bandara sentani ke Jayapura yang hanya 35km). Kondisi jalan yang berbelok-belok dan dapat dibilang sering, semakin membuat kami berdua agak pening. Untung saja anakku bisa tertidur agak lama dalam perjalanan ini,sehingga tidak terlalu terasa (mungkin). Penumpang di depanku yang menjemput anaknya dari jawa, mabuk berat, berkali-kali dia muntah selama perjalanan.

Perjalanan yang diperkirakan selama 2 jam, ternyata ditempuh lebih dari 3 jam. Kami tiba di Kota Samarinda sekitar pukul 18.00 WIT. Ini dikarenakan selain di perjalanan hujan yang turun berhenti dan datang lagi yang mempengaruhi laju kendaraan, juga dikarenakan ada salah satu penumpang yang menyimpang jalur sekitar 10 km, sehinggaperlu waktu lagi untuk kembali ke jalur yang benar 10 km juga.

02 Februari 2009

Perpisahan di Jayapura, 9 Januari 2009

ada hidup ada juga mati..... jika berani hidup, maka
jangan takut menghadapi mati. jika takut mati maka jangan
lah hidup.
itu lumrah terjadi.
Ada pertemuan ....pasti ada perpisahan...
maka jika tidak ingin berpisah, janganlah bertemu.
tapi pertemuan itu adalah rahasia Allah, semakin banyak
kita bertemu seharusnya semakin banyak kita mempunyai
sahabat....
yah ambil manfaatnya saja lah....
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

19 Januari 2009

Episode Jayapura, Papua

Tidak terasa sudah dua tahun lebih aku dan keluarga tinggal di bumi paling timur ini (kota Jayapura), tepatnya sejak tanggal 4 Nopember 2006 lalu. Jujur saja semula aku membayangkan yang bukan-bukan tentang kota ini, tapi dengan tekad yang memang sudah kubawa sejak permulaan aku bekerja dan keyakinan bahwa semua ini adalah buminya Allah, aku berangkat ke Jayapura sendirian sambil mencari terlebih dahulu tempat yang cocok untuk berteduh bersama keluarga, syukur-syukur dapat rumah dinas (ya,...itung-itung tidak mengeluarkan ongkos banyak untuk kontrakan). Istri dan kedua jagoanku kutinggal sementara di Kota Palu, ya...dengan maksud biar mereka tidak repot-repot dalam memikirkan tempat tinggal gitu...


Tidak lebih dari satu bulan aku punya kesempatan untuk mengambil keluargaku di Palu untuk kuboyong ke Jayapura walau rumah dinas yang dijanjikan untukku belum juga kosong, dan sementara aku sekeluarga tinggal di tempat teman seperjuanganku (Pak Agung Yulianta - yang juga sama-sama dari Palu). Aku mendapat kesempatan ini karena dapat tugas ke Anyer tanggal 14 - 18 Nopember 2006, sekembalinya dari sana aku singgah ke Palu untuk membawa keluargaku (3 orang) dan keluarga Pak Agung (4 orang)


Untuk sementara kami menempati rumah dinas Pak Agung bersama-sama sambil menunggu kosongnya rumah dinas jatahku sekeluarga. Tepat tanggal 1 Januari 2007 kami sekeluarga dapat memasuki rumah dinas itu, Alhamdulillah...setidak-tidaknya tempat anak-anakku bermain semakin luas. Untung juga tempatku itu, airnya bisa dibilang sangat lancar, setidaknya dua hari sekali mengalir (maklum di daerah lain ada juga yang seminggu hanya mengalir sekali, atau ada yang tidak sama sekali mengalir, terpaksa harus beli air satu tangki kira-kira 150.000). Alhamdulillah sampai sekarang tidak pernah aku sampai beli air.....

Alam Kota Jayapura sangat menarik, tanahnya berbukit-bukit(yang datar sedikit(dekat gunung dan dekat pula ke laut)), tapi dengan demikian malah mempunyai daya tarik tersendiri. Rumah-rumahnya jadi seperti persawahan di jawa di daerah pegunungan...dibikin terasering. Dari kejauhan sangat ndah dilihat, apalagi di waktu malam. Semakin bagus kelihatannya dengan terangnya lampu masing-masing rumah. Yang indah juga,kita dapat melihat laut lepas dari ketinggian bukit yang jaraknya dari laut tidak terlalu jauh. Kita bisa melihat dari atas, pelabuhan Jayapura yang letaknya di teluk yang airnya tidak terlalu tinggi (beda lagi yang di laut lepas/samudra pasifik yang juga terlihat dari atas). Sangat menakjubkan melihat dari ketinggian yang tidak terlalu jauh, sehingga kita bisa mengamati detail keindahannya dengan mata telanjang (tanpa perlu menggunakan teropong gitu loooh...)

Yang sangat disayangkan, jalan yang ada tidak terlalu banyak alternatifnya. Ini karena kondisinya memang tidak memungkinkan untuk membuat banyak jalan, jadi andaikan ada demo, praktis agak merepotkan, macet sekali dan kadang bisa terhambat perjalanannya karenanya. Alat transportasi bisa dibilang lengkap. Kapal laut setidaknya seminggu sekali masuk pelabuhan Kota Jayapura yang memang ada di tengah kota. Kapal yang masuk diantaranya NGGAPULU, DOROLONDA, SINABUNG. Sedangkan untuk angkutan pesawat, bandaranya cukup jauh dari kota, ya... sekitar 30 km dengan maskapai penerbangan cukup beragam(garuda, merpati, lion, batavia). Jadi banyak alternatif untuk menuju kota ini. Tapi ya... jangan kaget kalau ongkosnya juga banyak (jauh khan... bandara - kota bisa sampai 250 ribu)

Jangan mengira bahwa kota Jayapura masih terbelakang (usianya sudah 98 tahun dan berdasarkan IHDR 2004 Kota Jayapura menempati ranking ke-48 di Indonesia), penduduk pendatang sudah banyak di kota ini, bahkan kalau anda mengunjungi pasar-pasar tradisional akan banyak anda jumpai warga pendatang sebagai pedagangnya (orang jawa,sulawesi, sumatera juga ada). Sektor perdagangan ini sepertinya dikuasai oleh pendatang, walaupun ada juga penduduk asli yang menjadi pedagang, mereka rata-rata berjualan hasil kebun berupa buah-buahan dan hasil bumi lainnya. Tidak ketinggalan juga mereka jualan pinang sebagai kegemaran masyarakat papua (rata-rata gigi mereka sangat kuat). Hanya saja ludah dari aktivitas makan pinang ini dibuang sembarangan. Jadinya yang belum tahu, mengira banyak darah berceceran di jalan-jalan. Padahal itu adalah akibat makan pinang tersebut.

Sedang untuk sektor pariwisatanya tidak terlalu banyak variasi. Andalan utamanya adalah wisata pantai karena kotanya berada di sepanjang pantai. Sepanjang pantai (yang juga sepanjang kota) memang sering dikunjungi. Taman Mesran Pertamina, Pantai depan gubernuran dan pantai daerah ruko dok 2 merupakan tempat favorit anak-anakku untuk bermain-main dikala liburan atau hari sabtu, minggu... Ya.. pilihan ini adalah yang termurah dibandingkan jika memilih tempat-tempat lain. Di tempat lain kadang-kadang kita harus menyediakan biaya tambahan tak terduga untuk mengatasi adanya penduduk setempat yang menarik biaya semaunya. maklumlah harga-harga di papua sangatlah tinggi (mangga yang saya dapat di Kota Palu satu biji dengan harga seribu, di papua minimal 10 - 15 ribu....)

Sebenarnya masih banyak sekali yang bisa diceritakan mengenai Kota Jayapura tentang berbagai potensi yang ada pada Kota Jayapura ini. tentang potensi ekonomi sampai potensi perkembangan kotanya. Hanya sajamungkin kesempatan yang belum memungkinkan untuk mengungkapkannya secara lebih terinci lagi. Namun dari semua itu yang paling penting bagiku adalah bahwa anak laki-lakiku ke-3 lahir di Kota Jayapura (PD4 kata orang sana) tepatnya di RSUD Dok 2 pada tanggal 26 Agustus 2008 setelah kakak keduanya berumur 4 tahun yang lahir di Kota Yogyakarta tahun 2004 dan kakak pertamanya yang berumur 7 tahun lahir di Kota Palu pada tahun 2001.

Beberapa saat setelah aku tulis hal ini,ternyata aku mendapat kabar bahwa aku dimutasikan ke Kota Samarinda, dan terhitung mulai tanggal 14 Januari 2009 aku sudah berada di Kota Tepian ini..... Kota samarinda....


17 Desember 2008

23 November 2008

26 Oktober 2008

07 Oktober 2008

Lebaran 1429 H di Jayapura



ini merupakan lebaran kedua kami di kota Jayapura

01 September 2008

03 Agustus 2008

Di Pantai Bakaro Manokwari desember 2007

Photo ini diambil setelah menyaksikan pemanggilan ikan di tepi pantai Bakaro Manokwari